Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk "melihat sebentar", lalu tiba-tiba satu jam telah berlalu? Anda tersesat dalam guliran tak berujung, berpindah dari satu video pendek ke meme lainnya. Setelahnya, alih-alih merasa terhibur, Anda justru merasa lelah secara mental, sulit fokus, dan pikiran terasa kosong. Tanpa disadari, kebiasaan ini juga bisa mengganggu kesehatan mental dan bahkan pola tidur Anda. Mengapa ini bisa terjadi?
Fenomena ini semakin dikenal dengan istilah informal "Brain Rot". Istilah ini merujuk pada dampak negatif dari konsumsi berlebihan konten digital berkualitas rendah terhadap fungsi kognitif kita. Ini adalah perasaan ketika otak seolah "membusuk" karena terlalu banyak terpapar informasi yang tidak bergizi, yang pada akhirnya dapat menurunkan kemampuan kita untuk berpikir secara mendalam. Fenomena ini ternyata cukup serius hingga menjadi perhatian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), yang menguraikan beberapa faktor penyebab utamanya.
Banyak yang mengira masalah utamanya adalah durasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Namun, inti dari "Brain Rot" lebih spesifik dari itu. Ini adalah kondisi adiksi terhadap konten-konten media sosial yang tidak bermutu. Contohnya termasuk video pendek atau meme yang dikonsumsi berulang, perdebatan dan drama online yang tak ada habisnya, hingga teori konspirasi, hoax, dan komentar negatif yang memancing emosi.
Konsumsi berlebihan konten bernilai rendah semacam ini dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang signifikan. Secara spesifik, dampaknya adalah hilangnya kemampuan otak untuk berpikir kritis, mempertahankan fokus, dan memecahkan masalah yang kompleks.
Ini adalah sebuah pembeda yang penting. Masalahnya bukan sekadar membatasi waktu layar, tetapi lebih kepada kesadaran untuk memilih dan mengkurasi konten yang kita konsumsi setiap hari. Ini mengubah fokus dari manajemen waktu menjadi manajemen perhatian dan kualitas informasi.
Jika Anda merasa sulit untuk berhenti scrolling, Anda tidak sendirian, dan ini bukan sepenuhnya salah Anda. Platform media sosial dirancang untuk membuat Anda tetap tinggal selama mungkin, dan alat utama mereka adalah algoritma.
Algoritma ini bekerja dengan cara mempelajari minat Anda, lalu menyajikan konten yang dipersonalisasi sesuai preferensi tersebut. Tujuannya adalah agar Anda terus menerus mengakses konten serupa, menciptakan sebuah gelembung informasi yang nyaman namun adiktif. "Jebakan" inilah yang membuat Anda terus menggulir layar, terjebak dalam siklus konten yang tidak pernah berakhir.
Di balik layar, ada proses biokimia yang terjadi di otak Anda. Setiap kali Anda melihat konten yang menghibur seperti meme atau video singkat favorit, otak Anda melepaskan hormon dopamin. Dopamin adalah neurotransmitter yang berhubungan dengan rasa senang dan penghargaan.
Proses ini menciptakan kesenangan yang instan dan mudah didapat. Masalahnya, otak kita menyukai jalan pintas ini. Hal tersebut menciptakan lingkaran umpan balik (feedback loop) di mana otak terus-menerus menginginkan lebih banyak dosis dopamin. Inilah yang mendorong perilaku adiktif dan membuat Anda merasa sangat sulit untuk melepaskan diri dari gawai Anda.
Kecepatan arus informasi di dunia digital menciptakan sebuah tekanan psikologis yang dikenal sebagai FOMO atau "Fear Of Missing Out". Ini adalah ketakutan atau kecemasan bahwa Anda akan tertinggal dari berita, tren, atau percakapan terbaru jika tidak terus-menerus terhubung.
Ketakutan inilah yang memacu pengguna untuk secara kompulsif memeriksa media sosial, mencari konten yang paling terkini agar tidak merasa "ketinggalan zaman". Perilaku ini menciptakan siklus kecemasan dan keterpaksaan yang terus-menerus, yang semakin memperkuat adiksi terhadap media sosial.
Berlawanan dengan intuisi, otak kita sebenarnya membutuhkan tantangan untuk tetap tajam dan sehat. Aktivitas seperti memecahkan masalah yang kompleks adalah bentuk "latihan" yang menjaga fungsi kognitif tetap optimal.
Ketika otak secara terus-menerus hanya diberi asupan konten yang mudah dicerna dan tidak memerlukan usaha mental, ia akan menjadi "malas". Kapasitasnya untuk menangani tugas-tugas yang lebih berat dan menuntut pemikiran mendalam akan menurun. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya kapasitas untuk berpikir secara mendalam dan menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
"Brain Rot" bukanlah sekadar istilah tren, melainkan sebuah fenomena nyata yang didorong oleh kombinasi antara kualitas konten yang kita konsumsi, desain algoritma yang adiktif, dan reaksi kimiawi dalam otak kita. Kabar baiknya, kita bisa melawannya.
Salah satu solusi paling ampuh adalah melakukan "Digital Detox", yaitu sebuah periode waktu di mana Anda secara sadar memutuskan hubungan dengan internet dan perangkat digital. Tujuannya adalah untuk memberi otak waktu untuk beristirahat, memulihkan diri, dan mengatur ulang fokusnya. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda coba:
Selain detoks sesekali, BSSN juga merekomendasikan beberapa strategi mitigasi untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dalam jangka panjang:
Setelah mengetahui dampak ini, langkah kecil apa yang akan Anda ambil hari ini untuk melindungi pikiran Anda dari 'Brain Rot'?
Sumber: